/ Elsa - Disney's Frozen

Saturday, 25 March 2017

"Tanpamu, aku sebatas rindu yang tak pernah sampai ke peraduannya."

Posted by Ismi Meidy Novtya at March 25, 2017
Ada hari dimana dunia ini dimulai dan tentu akan ada akhir dari segalanya. Aku tau, masih banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehku namun tentu saja aku tak pernah menyadarinya. Dari awal aku sangat tau bagaimana perjalanan kehidupan, tak dapat di duga, tak pernah terlintas apa yang akan terjadi selanjutnya hingga tiba saatnya semua terungkap menjadi sebuah kejutan. Kejutan yang mungkin akan merekahkan senyuman atau malah membawamu ke dalam kelaraan. Sama sepertiku, hidup dikelilingi banyak hal yang kelam, seakan akulah penjahat yang terus dikejar polisi. Siapa yang salah di sini? Aku kah? Tidak! Aku tak pernah merasa salam dalam keadaan ini. Aku hanya, aku hanyaa tak mengerti mengapa aku terus saja menjadi korban.

Serpihan luka itu belum juga habis ditelan bumi, ia semakin membawaku ke dalam dunianya, menyeruakan betapa malangnya aku. Aku menyesal mau saja mencicipi hidup seperti ini, aku bahkan tak pernah berfikir bagaimana bisa aku bertahan dalam kegelapan yang selalu saja menyelimutiku. Aku rapuh! Aku lemah! Aku bukan batu karang yang hanya dapat diam dengan kokoh meskipun diterjang ombak setiap saat, aku hanya manusia biasa yang masih menyimpan sebuah perasaan, perasaan yang tak pernah orang lain mengerti. Hanya aku. Yaa, hanya aku yang dapat memahami hidupku. Bukan orang lain.

----‘
Satu bulan lalu aku resmi menyandang gelar sebagai anak broken home. Iya, mereka yang menghancurkanku, membuatku harus merasakan pahitnya perjalanan hidupku. Ah, aku baru lima belas tahun! Apa iya harus aku yang mengalami semua ini? Menderita di tengah-tengah kebahagiaan yang seakan membatasiku. Salahkah bila aku ingin memanjat dinding kebahagiaan itu untukku? Aku ingin bahagia. Hanya itu.

“Fy, sampai kapan lo mau jadi pendiem kayak gini? Kita semua kangen sama elo fy.” Aku hanya terdiam, menatap lekat wajah orang di depanku.
“Fy, jawab please!” aku hanya termangu.
“Lo masih mikirin kejadian itu? Itu Cuma masa lalu fy, Cuma kenangan.” Sontak mataku beralih menatap tajam ke arah pemuda ini.
“Apa lo bilang? CUMA? Cuma yang udah bikin gue jatuh kayak gini? Cuma yang udah bikin gue lupa rasanya bahagia? Cuma yang udah bikin gue terpuruk seakan gue nggak guna? Cuma lo bilang?? CUMAA???”sentakku yang tanpa sadar mengejutkanya.
“FY!! Maksud gue bukan itu ... FY! FY!!”
Aku terus berlari meninggalkan pemuda itu. Aku benar-benar kalut. Aku labil. Apa aku bilang? Aku hanya anak umur lima belas tahun yang benar-benar mengandalkan emosi. Aku down. Tuhaannn, aku tau aku merasa beda sekarang tapi haruskah? Haruskah aku menanggungnya sendirian??
“ARGGHH!!!” bersamaan dengan eranganku, hujan turun dengan lebatnya. Membasahi baju seragam yang tengah menempel pada tubuhku.
Kakiku semakin melemas hingga tanpa sadar aku telah tersungkur di tengah-tengah jalan raya yang tentunya telah berlalu lalang segala jenis kendaraan. Mereka terus membunyikan klaksonya sedang aku tak berbuat apa-apa, bukanya aku tak mau namun untuk menggerakkan kakiku saja aku benar-benar tak sanggup, haruskah aku mati di sini? Jika memang itu lebih baik maka aku akan dengan ikhlas menerima takdirku ini. Yang jelas, aku ingin berakhir.
“IFYYY IFFYYY!!!! LO NGAPAIN DISITUU?? IFFYYYY!!!” sebuah teriakan terdengar begitu samar di telingaku. Selanjutnya, semua menjadi .... gelap.


***

Sebuah cahaya menyilaukanku, akku mengerjap sejenak dan mendapati ruangan serba putih dengan jendela terbuka di sebelah kanan ruangan. Sekali lagi, aku tak pernah tau ini dimana. Apa yang terjadi? Aku mulai mencerna kejadian sebelumnya. Ah iya, saat itu aku mendengar seseorang meneriakkan namaku namun belum sempat aku menengok, semua menjadi gelap gulita begitu saja. Lalu? Aku tak ingat apa-apa.
“Lo udah bangun?” aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati pemuda itu tersenyum lega ke arahku.
“Gue dimana?”tanyaku parau. Sepertinya kehujanan itu membuatku sedikit sakit.
“Lo di rumah sakit.”
“Lo sendiri?”tanyaku lagi.
“Enggak...” sejurus kemudian aku mengembangkan senyumku.
“Mama gue lagi nyari makan,”lanjutnya yang membuatku mendengus sebal. Baru saja aku tersenyum tapi ...ah!
“Kenapa?”tanya pemuda itu heran melihat perubahan ekspresiku.
“Gue mau pulang!”ketusku.
“Lo baru aja sadar, nggak mungkin gue ngizinin lo pulang,”balasnya.
“Buat apa?”tanyaku sesak.
“Maksud lo?”
“Buat apa lo bawa gue ke sini? Buat apa yo? Nggak ada yang peduli sama gue yo!! NGGAK ADA!!!” tanpa terasa cairan bening ini terus mengalir tanpa dapat ku cegah.
“Siapa yang bilang nggak ada yang peduli sama elo? Gue peduli sama elo fy!! Peduli!!!” hatiku mencelos.
“Tapi mereka enggak yoo, mereka enggak pernah ngertiin gue, mereka Cuma bisa ngurusin keegoisan masing-masing. Gue benci sama mereka yoo, benciii...” tangisku semakin pecah. Rio –pemuda itu- segera merengkuhku dalam peluknya.
“Ada gue fy, gue,”bisiknya lembut. Aku tak dapat berkata lagi, tenagaku cukup habis karena hujan itu.
Sejurus kemudian aku kembali terlelap, ah ku rasa bukan. Aku hanya memejamkan mata tanpa mempunyai tenaga sedikitpun untuk mengangkat kelopak mata ini. Ku dengar sayup-sayup mama Rio datang dan menanyakan apa yang terjadi.
“Ify kenapa yo?”tanya Mama Manda.
“Tadi Ify udah sadar ma tapi labil lagi gara-gara inget kejadian itu,”jawab Rio dengan lirih.
“Ify akan baik-baik aja, kamu tenang aja.”
“Iya, Rio nggak mau kehilangan Ify ma..” lagi-lagi aku meringis mendengar ucapan Rio. Dia terlalu baik untukku.
“Ya sudah kamu jagain Ify ya, mama mau pulang dulu.” Rio mengangguk.
Gesekan antara high heels mama Manda dengan lantai terdengar sampai ke telingaku. Setelah langkah itu semakin jauh, Rio mendekatiku perlahan lalu mengusap pelan puncak kepalaku. Aku masih belum bisa membuka mata sepenuhnya.
“Gue enggak mau lo terluka, seandainya gue bisa gantiin posisi lo sekarang pasti udah gue lakuin dari awal,”bisik Rio.


***


Hari ini aku akan pulang, ah pulang? Oh lebih tepatnya kembali ke rumah Rio. Tadi pagi aku memaksa mama Manda untuk membolehkanku pulang, ia mengizinkan. Hanya saja aku harus kembali ke rumahnya, ia pasti tau kalaupun aku pulang ke rumah mereka tak pernah memerdulikanku, iya kan? Haha.
“Rio, antar Ify ke kamar.” Rio menganggukan kepala lalu menuntunku ke kamar yang entah aku juga tak tau kamar siapa.
“Ini kamar siapa?”tanyaku kepada Rio.
“Dulu ini kamar gue, tapi karena kak Acel kan menetap di Semarang jadinya gue pindah ke kamar kak Acel. Abisan kamar kak Acel keren, hehe,”jawab Rio polos.
“Kamar lo ya? Bagus,”komentarku. Rio hanya tersenyum.
“Ya udah lo ganti baju dulu sana, gue ambilin lo makan ya terus lo minum obat.” Aku terkikik pelan melihat Rio yang berubah menjadi cerewet.
“Nggak usah, ntar gue ke bawah sendiri, kita makan bareng,”ujarku. Rio mengembangkan senyumnya.
“Sips! Oke nona cantik, gue ke bawah dulu.” Aku mengangguk.
Rio semakin melangkah jauh. Aku menghela nafas panjang, setidaknya aku tak perlu berlagak menjadi orang bego yang tak berguna di neraka itu. Ahh kepalaku masih pusing! Tiba-tiba darah segar keluar begitu mulus dari hidung capingku. Mungkin aku terlalu capek.

-----‘

Biarkan aku bertahan
Meski ini sulit..
Ijinkan aku meraih semuanya
Kebahagiaan

Andai saja..
Aku masih sempat merasakanya
Hingga kini aku sering bertanya
Mengapa harus aku?

Aku menatap pantulan wajahku di depan cermin, memerhatikan wajahku yang semakin tak karuan setiap harinya. Panah-panah lara yang dulu sempat aku hindari selalu kembali menyerangku dari belakang, ah mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang terjebak dalam kisah khayal ini? Apa aku pernah melewati suatu kontes hingga kini aku harus bertarung dengan lawanku? Tidak! Aku tak mengerti dengan keadaanku sekarang. Aku semakin... semakin kacau, tak adakah kata yang lebih tepat menggambarkanku sekarang?
“Fy..” aku tersadar dari lamunanku ketika mendapati sebuah suara menyerukan namaku.
“Eh elo yo,”ujarku menatap Rio yang kini berada di ambang pintu.
“Udah cantik, nggak usah merhatiin diri sendiri kayak gitu deh,”canda Rio. Aku hanya terkikik pelan.
“Ayuk makan, mama udah nunggu di bawah.” Aku mengangguk lalu menghampiri Rio dan menguntitnya menuju lantai bawah.
Sesampainya di bawah, sudah ada om Haling dan tante Manda. Mereka tersenyum menyapaku. Lalu aku dan Rio duduk berdampingan. Rio begitu akrab dengan kedua orang tuanya, sama sepertiku dulu. Iya, DULU. Sebelum wanita itu masuk ke dalam hidupku dan menghancurkan segalanya, ia telah merubah total duniaku, seperti sekarang ini.
“Gue ambilin yah fy.” Rio begitu perhatian terhadapku. Cuma dia yang aku kenal saat ini, yaa Mario. Dia adalah idola di sekolahku, bahkan aku sempat terheran mengapa ia mau berteman denganku disaat semua orang mulai menghindariku hanya karena aku broken home.
Mata elang yang selalu nampak ketika menatap matanya. Mata yang selalu memancarkan pandangan teduh, lalu badanya yang seakan mampu mengokohkan semua orang dan terakhir senyum yang terhias seakan memberi kepercayaan akan kekuatanya. Bahkan, kau akan terlihat lemah di depanya.
“Makan fy.” Aku buru-buru mengalihkan pandanganku darinya. Lalu mengangguk dan pura-pura sibuk makan.
“Gue seneng liat lo udah mulai sehat gini,”ujar Rio memandangiku.
“Rioo jangan ngobrol saat makan.” Tante Manda memperingatkan Rio yang terus saja berbicara.
“Iya ma.”
Lagi-lagi aku dibuat iri denganya. Bahkan dulu tak pernah sekalipun Mama menyuruhku diam ketika makan, ia malah membiarkanku berbicara tanpa ia mau mendengar begitu pula papa. Ah dua orang itu beserta wanita itu yang telah membuatku hancur. Aku benci kalian! Dan ternyata aku menyesal telah mengenal kalian.

----‘

Pintaku hanya satu
Bahagia..
Satu kata saja namun cukup berarti
Seandainya aku harus mati
Ijinkan terlebih dahulu aku untuk bahagia
Walau sebentar
Seperti satu tetes hujan
Sesaat namun penuh manfaat

Aku ingin itu..
Satu kali saja...
Sebelum keputus asaan mampu merengkuhku

Aku menatap langit dari balkon kamar Rio. Di sana hanya ada satu bintang, bintang itu sendirian, kesepian dan sepertinya tengah berusaha tegar. Sama sepertiku. Namuna aku dan bintang tentu berbeda, bintang lebih baik dibanding aku, setidaknya sekarang ia mampu mencuri perhatianku ketimbang aku yang tak pernah mendapatkan perhatian dari siapapun. Haahhh, tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Kebiasaan yang selalu aku lakukan ketika sedang jenuh. Ya, aku jenuh dengan hidupku sekarang. Sampai kapan aku harus terbenam diantara oran-orang yang sama sekali tak mengerti aku? Aku...ingin mati.
“Bintang nggak sendiri, di sana masih ada bulan yang setia sama bintang itu. Sama kayak aku yang selalu siap jadi tameng kamu.” Aku menoleh dan mendapati Rio tersenyum padaku.
“Gue selalu percaya lo bisa kayak bintang, lo bisa bikin orang lain tersenyum karena kegigihan lo, ketegaran lo dan kehebatan lo yang mungkin orang lain nggak akan bisa seperti elo fy,”ucap Rio tanpa mengalihkan pandanganya dari bintang itu.
“Lihat! Dia emang satu tapi bulan juga satu, itu artinya mereka akan saling melengkapi. Bulan nggak akan berguna kalau nggak ada bintang karena bulan dapet cahaya dari bintang lalu bintang sama aja nggak akan berguna kalau bulang enggak ada, soalnya bintang nggak akan sanggup memancarkan cahaya sendirian untuk tempat seluas ini. Dan gue harap gue sama elo bakalan kayak bintang dan bulan yang saling membutuhkan,”cerocos Rio. Ify hanya terdiam mencerna kata-kata Rio.
“Gue bakalan ada buat lo, kapanpun. Sama kayak tongkat yang selalu menopang seseorang saat dia nggak bisa jalan. Gue rela jadi tongkat buat elo.” Lagi-lagi Ify hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Namun air matanya kembali mengalir dalam diam, Rio yang melihat malah melanjutkan ucapanya.
“Lo boleh nangis sampe lo puas tapi gue harap setelah itu lo akan selalu tersenyum.”
“Hiikksss, hiikkkss...” tangis Ify semakin menjadi. Hingga lagi-lagi hidungnyaa mengeluarkan cairan merah kental itu.
“Fy.. Ifyy??” Rio panik melihat Ify seperti itu. Dia memeluk tubuh Ify, entahlah ia hanya bingung harus berbuat apa hingga akhirnya ia memutuskan untuk merengkuhnya.
“Pleasee jangan buat gue khawatir,”bisik Rio tepat di telinga Ify.
Namun Rio merasakan tubuh Ify mulai melemas. Mata Rio sontak memanas, ia takut kehilangan Ify. Takut ... kehilangan sahabat sejatinya.

----‘

Satu kali lagi
Aku berucap ingin bahagia
Kembalikan kepingan kebahagiaanku
Walau aku sadar waktuku tak lagi lama
Entah..
Aku seakan tersengat listrik
Terguncang dahsyat
Hingga aku tahu

Tuhan..
Apa kau ingin mengambil nyawaku?

Bau obat dimana-mana, membuatku semakin enggan untuk bernafas. Aku di rumah sakit lagi? Ah kepalaku pusing, ku lirik sebelah kananku dan aku mendapati Rio dan tante manda tertidur di sova. Aku semakin memalukan di depan mereka. Selalu saja menyusahkan malaikat itu.
“Ify? Sudah sadar?” om Haling muncul dari bilik pintu. Sejurus kemudian Rio dan tante Manda ikut terbangun dari tidurnya.
“Ify??” aku hanya tersenyum miris lalu melirik amplop cokelat bertuliskan ‘Alyssa Saufika’ di cover depanya.
“Itu apa om?”tanyaku penasaran. Om Haling mendadak menjauhkan benda itu dariku.
“Enggak, bukan apa-apa fy,”jawab om Haling gugup.
“Tapi tadi Ify liat itu berkas tentang Ify, ada nama Ify kok om,”kataku keukeuh.
“Emm inii...”
“Apa?”
Rio dan tante Manda ikut mendekat. Rio menatap curiga ke arah om Haling begitu pula tante manda. Aku benar-benar tak mengerti, ada apa sebenarnya?
“Om kasih tau tapi Ify jangan kaget yaa...”ucapnya ragu. Aku hanya mengangguk. Pelan-pelan, pria itu mulai membuka amplop cokelat tersebut.
“Kamu, menderita kanker otak stadium akhir dan umur kamu tidak bisa diperkirakan lagi,”ujar om Haling yang mampu membuatku tercengang.
“Om nggak salah?” om Haling hanya terdiam, tak mampu menjawab.
“Nggak! PAPA BOHONG!!! IFY NGGAK AKAN NINGGALIN RIO, PAA!!!!”bentak Rio yang membuatku menoleh ke arahnya.
“Riooo,, stttt diam sayang,”ucap tante Manda lembut.
“Gue nggak mau lo pergi fy, nggak mau,”ucap Rio dengan mata sembab. Aku ikut menangis.
“Kenapa harus gue yo?? Kenapa?? Tuhan jahat sama gue yo!! Gue benci sama semua orang, GUE BENCI YOO!! NGGAK ADA YANG BISA NGERASAIN APA YANG GUE RASAIN!!! GUE BENCIIIIII!!!!!”


***

Bintang dan Bulan
Dua hal yang saling melengkapi
Hanya saja mereka berbeda
Seperti aku dan kamu
Mereka tak akan dapat menjadi satu
Seperti aku dan kamu
Ada saatnya bintang harus pergi
Meninggalkan bulan dengan kehampaan
Dan bintang itu...
Aku


Ify dimakamkan tepat jam 10.00 , linangan air mata sesal terjulur begitu saja. Saat semuanya sudah berakhir, ya kisah Ify telah berakhir. Hanya saja, cinta untuknya seperti alang-alang, tak akan dapat musnah begitu saja. Rio menatap miris nisan bertuliskan “Alyssa Saufika”. Ia tak pernah menyangka bahwa yang ada dalam tanah itu adalah sahabat yang sebenarnya telah menyusup ke dalam hatinya hingga gadis itu mampu membuat ruang pribadi di hati Rio. Apa ia sanggup melupakan semuanya?
“Maaf fy, gue yang selalu bikin lo percaya kalau bahagia buat elo bakalan dateng tapi ternyata nggak semudah ucapan gue. Gue nyesel fy, gue jadi orang bego yang percaya keajaiban. Nyatanya? Keajaiban itu malah ngambil elo, haha. Baik-baik lo di sana,”cerocos Rio.
“Gue janji fy, akan turutin kemauan elo,”lirih Rio lalu mengecup nisan tersebut.
Selanjutnya ia melangkah meninggalkan makam tersebut. Inilah puncak akhir segalanya. Kisah Ify benar-benar kandas. Semua tentangnya adalah masa lalu, secepat dan semudah itukah? Dia memang peran utama namun  ternyata semua peran tak dapat membantunya. Ah..



***

 

Queen's Pink Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review